MeuligoeBerita — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Aceh Barat resmi mengirim 20 delegasi untuk mengikuti Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Keberangkatan delegasi PCNU Aceh Barat tidak sekadar untuk menghadiri forum permusyawaratan tertinggi NU yang digelar lima tahun sekali. Rombongan juga membawa misi untuk menyampaikan aspirasi warga Nahdliyyin Aceh Barat sekaligus mendorong penguatan tata kelola organisasi dan khidmat NU bagi masyarakat.
Muktamar NU ke-35 mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa.” Tema tersebut menjadi spirit bagi seluruh peserta untuk memperkuat peran NU dalam kehidupan keumatan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.
Sebanyak 20 delegasi PCNU Aceh Barat berasal dari berbagai unsur organisasi, mulai dari jajaran Tanfidziyah, Syuriah, lembaga, hingga badan otonom (Banom) NU.

Ketua Tanfidziyah PCNU Aceh Barat, Dr. H. Khairul Azhar, MA, mengatakan Muktamar NU merupakan momentum penting karena hanya dilaksanakan satu kali dalam lima tahun. Karena itu, ia meminta seluruh delegasi menjaga nama baik dan marwah organisasi selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
“Ini acara besar lima tahun sekali. Saya berpesan agar seluruh peserta menjaga marwah NU dan menjaga kondusivitas selama Muktamar berlangsung. Kita harus malu kepada para muassis NU,” ujar Waled Khairul, Rabu (26/8/2026).
Ia juga mengingatkan para delegasi untuk mengedepankan sikap santun, menjaga persatuan, serta ikut menciptakan suasana damai selama Muktamar berlangsung.
Menurutnya, perbedaan pandangan dalam forum Muktamar merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan semangat persaudaraan dan persatuan sesama warga Nahdlatul Ulama.
PCNU Aceh Barat berharap Muktamar ke-35 mampu melahirkan kepengurusan PBNU yang semakin responsif terhadap kebutuhan warga Nahdliyyin di seluruh Indonesia.
Sejumlah isu yang dinilai penting untuk mendapat perhatian antara lain penguatan organisasi, kaderisasi, pendidikan pesantren, kemandirian ekonomi, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan peran NU dalam menjaga persatuan bangsa.
Sekretaris Tanfidziyah PCNU Aceh Barat, Aduwina Pakeh, yang turut mendampingi Waled Khairul, menambahkan bahwa Muktamar juga harus menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan melakukan konsolidasi organisasi.
Menurutnya, seluruh delegasi hendaknya datang dengan semangat membawa aspirasi dari daerah, bermusyawarah dengan hati yang jernih, serta kembali ke daerah dengan semangat baru untuk meningkatkan pengabdian kepada NU dan masyarakat.
“Datang membawa aspirasi, bermusyawarah dengan hati yang jernih, dan pulang membawa semangat untuk meningkatkan pengabdian kepada NU. Siapa pun yang mendapatkan amanah kepemimpinan nantinya, seluruh warga NU dapat kembali bersatu,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perbedaan pilihan dalam Muktamar merupakan hal yang biasa dalam sebuah organisasi besar. Namun setelah seluruh rangkaian Muktamar selesai, persatuan harus kembali menjadi prioritas bersama.
“Berbeda pilihan dalam Muktamar adalah hal biasa, tetapi setelah Muktamar kita harus kembali menjadi satu keluarga besar Nahdlatul Ulama,” tutupnya.
Dengan membawa semangat silaturahim, konsolidasi, persatuan, dan pengabdian, PCNU Aceh Barat berharap Muktamar NU ke-35 di Jombang dapat menghasilkan keputusan strategis yang mampu memperkuat NU dan semakin memperluas manfaatnya bagi umat, masyarakat, dan bangsa.






