MB || Jantho – Musim Tanam (MT) Rendeng atau MT II Tahun 2024 di beberapa kabupaten di Aceh telah memasuki jadwal tanam. Salah satunya adalah di Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar.
Di kawasan persawahan Blang Pinto Paya, Desa Batee Linteung, Kecamatan Simpang Tiga, yang merupakan wilayah binaan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Simpang Tiga, Dinas Pertanian Aceh Besar, telah melakukan penanaman perdana padi sawah.
Marlina, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat, langsung turun ke sawah menanam padi bersama para petani binaannya. Marlina sendiri memiliki tiga desa binaan di Kecamatan Simpang Tiga, yaitu Desa Batee Lintueng, Nya, dan Krueng Mak.
“Sekarang kegiatan di lapangan sangat padat karena sudah memasuki jadwal tanam padi. Kami sangat berterima kasih kepada Dinas Pertanian Aceh Besar, khususnya melalui Bidang Penyuluhan, yang pada hari pertama tanam di Kecamatan Simpang Tiga ini memberikan kesempatan kepada seluruh Penyuluh Pertanian BPP Simpang Tiga untuk ikut serta dalam Bimbingan Teknis Penyuluh Pertanian dan Petani dengan dua materi penting, yaitu PUTS dan Pengelolaan OPT,” ujar Marlina di Batee Lintueng kepada Media Center Aceh, Pada 5 November 2024
Dijelaskan bahwa materi Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) bertujuan untuk membekali PPL dan petani dalam mengukur kandungan pupuk N, P, K, serta kondisi pH tanah di sawah. Dengan alat PUTS ini, penyuluh dapat memberikan jumlah pupuk yang tepat bagi petani setiap musim tanam.
“Dengan PUTS, kita dapat mengefisienkan penggunaan pupuk di sawah. Dengan dosis yang sesuai kebutuhan, hasilnya meningkat, dan petani pun tidak boros dalam penggunaan pupuk. Misalnya di Desa Batee Lintueng, penggunaan pupuk Urea atau N malah bisa berdampak buruk bagi pertumbuhan padi karena tanahnya yang terus tergenang udara menjadi asam,” jelas Khaidir, Koordinator BPP Simpang Tiga.
Lanjut dia, untuk sawah di Blang Pinto Paya, Desa Batee Linteung, yang memiliki tanah dominan asam, memberikan merekomendasikan penggunaan kapur dolomit untuk menetralkan PH tanah, serta penggunaan abu sisa pembakaran di tempat persemaian guna pencegahan hama.
“Kami juga menyarankan pupuk organik Magnesium Indapuri sejak pengolahan tanah hingga sebelum tanam untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kekebalan tanaman padi, serta aplikasi pestisida nabati dalam pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT),” tambah Khaidir.
Penggunaan keracunan kimia juga direkomendasikan jika serangan OPT melebihi ambang batas, dan tetap diawasi oleh petugas dengan mempertimbangkan konsep pertanian berkelanjutan.
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Safrina.prov






